Selasa, 30 Juni 2015

Faktor yang Mempengearuhi Inteligensi




Inteligensi biasanya dikaitkan dengan keampuan seseorang untuk memecahkan sebuah masalah, kemampuan untuk belajar, dan kemampuan untuk berfikir abstrak. Dengan kata lain inteligensi adalah sebuah kemapuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional.
Inteligensi dapat dikatakan sebagai pola pikir rasional karena secara umum inteligensi tadak dapat dilihat secara kasat mata melaikan harus disimpulkan dan diamati dari berbagai tingkah laku manusia itu sendiri atau tindakan nyata dari seseorang yang merupakan mainfastasi dari proses berfikir itu.
Secara umum inteligensi dapat diartikan sebagai sebuah pola pikir manusia, tetapi beberapa ahli menguarikan tentang  teori intelegensi sebagai berikut:
1.      Alfred Binet mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik yaitu berkembang dari suatu faktor satuan. Menurutnya intelegensi merupakan sisa tunggal dari karekteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.
2.      Edward Lee Thorndike, teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampikan dalam wujud perilaku intelegensi.
3.      Robert J. Sternberg, teori ini mentikberatkan pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya teorinya lebih berorientasi pada proses. Teori ini disebut juga dengan Teori Intelegensi Triarchic.
Jika diambil dari pengertian para ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Intelegensi setiap orang cenderung berbeda-beda. Ini disebabkan oleh beberapa faktor atau hal-hal yang mempengaruhinya, Dalam buku Psikologi Pendidikan yang ditulis oleh H. Jaali pada tahun 2007, berikut ini merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:
1.      Faktor Bawaan
Dimana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak pintar. Dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama.
2.      Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas
Dimana minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik.
3.      Faktor Pembentukan
Dimana pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya.
4.      Faktor Kematangan
Dimana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Sebagai contoh, tidak mengherankan bila anak-anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal soal matematika di kelas empat sekolah dasar, karena soal soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur.
5.      Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kelima faktor itu merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi manusia dan faktor diatas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya.
Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja melaikan banyak faktor yang saliang berkaitan erat satu dengan yang lainnya yang dapat mempengaruhi intelegensi orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar